Friday, July 19, 2013
PROJECT BEGIN with OCL 50-100Watt
Dimulai dari sini, ini hanya hasil scan dan redraw saja. (aku gambar ulang, yang item, pake autocad).
Monday, March 24, 2008
SAKROTUN AL-MAUUTIN
Ketika sesuatu—makanan atau minuman—masuk dari mulut dan keluarnya dari mulut juga, itu akan menjadi sesuatu yang menyakitkan. Muntah karena masuk angin, mabuk perjalanan ataupun karena mabuk miras (minuman keras) semuanya menyakitkan dan suatu penyakit. Saya yakin, anda pasti pernah mengalami salah satunya, salah duanya, ataupun ketiga-tiganya, mungkin!
Sepulang dari kelas menulis Rumah Dunia, sekitar pukul 21.30 baru nyampe rumah. Di perjalanan udah terasa mual, cuma ditahan. Pas nyampe rumah langsung menuju kamar mandi, yap, muntah itu memang sakit! Rasanya perut saya jadi tipis, semua yang diperut keluar semua. Selesai dengan kejadian itu semua, saya lapar, terus makan dan langsung tidur. Menyakitkan. (ini bukan bermaksud cerita jorok lho..).
Saya jadi teringat pada kejadian ketika manusia dicabut nyawanya, mulutnya pasti terbuka dan terlihat kesakitan (apa setiap mayat pasti mulutnya terbuka..!?). timbul pertanyaan dalam diri saya, apakah nyawa itu dimasukkan lewat mulut dan dicabut lewat mulut pula..? (maklum kagak tau..).
(21.40/240705)
Taufik Munir [KotaSantri.com] Langkah-langkah Setelah Kematian, Beliau bilang begini; Banyak yang tahu, sebagian ada yang tidak tahu. Tapi tidak perlu tahu, karena semua orang akan mengalami.
Dari sumber yang otentik, Quran dan Hadis:
langkah-langkah kehidupan manusia sejak di dunia hingga ke alam lain. Hasbunallahu wa ni'mal wakiil!
MU'MIN
1. alam Dunia
2. alam Kubur
3. meniupkan badan
4. Hari Kebangkitan
5. Alam Syafaat | Alam Mahsyar
6. Dihisab | Alam Mahsyar
7. Pembagian kitab | Alam Mahsyar
8. Mizan/Timbangan | Alam Mahsyar
9. Lembah | Alam Mahsyar
10. Ujian keimanan | Alam Mahsyar
11. Melewati Jembatan
12. Melewati lengkungan
13. Surga
Ket: Dari no. 5 hingga no 10 adalah alam Mahsyar.
KAFIR
1. alam Dunia
2. alam Kubur
3. meniupkan jasad
4. Hari Kebangkitan
5. Alam Syafaat | Alam Mahsyar
6. Dihisab | Alam Mahsyar
7. Pembagian kitab | Alam Mahsyar
8. Mizan/Timbangan | Alam Mahsyar
9. Neraka
Ket: Dari no. 5 hingga no 8 adalah alam Mahsyar.
MUNAFIQ
1. alam Dunia
2. alam Kubur
3. meniupkan badan
4. Hari Kebangkitan
5. Alam Syafaat | Alam Mahsyar
6. Dihisab | Alam Mahsyar
7. Pembagian kitab | Alam Mahsyar
8. Mizan/Timbangan | Alam Mahsyar
9. Ujian keimanan | Alam Mahsyar
10. Neraka
Ket: Dari no. 5 hingga no 9 adalah alam Mahsyar.
Yup, semua kematian itu menyakitkan, bahkan Rosulullah sendiri tak luput dari rasa sakit kematian. Tapi, ada suatu siasat yang khusus untuk orang-orang shaleh. Seperti pada saat Rosulullah meninggal, semua Malaikat datang, memberikan keindahan dan kedamaian.
Keindahan dan kedamaian akan membius hingga dapat mengalihkan rasa sakit. Malaikat akan membuka sayap sebelah kanannya dan memperlihatkan surga, sehingga akan terbuai dan tak sadar malaikat maut tengah mencabut nyawa. [tac-200308].
Tuesday, March 11, 2008
BELI KERTAS, APA BELI ISI?
Masuk ke toko buku, gatel deh..!
Hardcover itukan mahal, mending kalau isinya keren, coba yang asal, murahan, rugi banget tuh beli buku. Covernya sih keren tapi..
Kalau saya, beli buku itu mendingan beli isinya—kualitas tulisan—daripada beli kertas. Gak penting masalah kertas dan covernya, yang penting itu kualitas tulisannya, keren apa kacangan. Coba kita renungkan, membeli buku adalah sama dengan membayar penulis + membeli kertas plus cover + biaya produksi lainnya dan pajak. Membayar penulis dan biaya produksi lainnya dan pajak tidak bisa di tekan/diturunkan, hanya biaya kertas plus cover saja yang bisa ditekan, jadi akan semakin mahal saja harga sebuah buku jika biaya kertas dan covernya tinggi. Coba jika memakai kertas buram—doorslag misalnya, dengan cover yang sederhana—soft, bukan hard—mungkin biaya produksi dapat ditekan.
Memang, memakai hardcover dan kertas yang kualitasnya bagus (kertas putih 80 gram) itu membuat buku lebih awet. Sedangkan kertas buram dan softcover itu cepat lecek dan rusak. Tapi, tergantung pemakaiannya dong! Rajin apa jorok, iya kan? Daripada pakai hardcover dan kertas yang kualitasnya bagus mending pakai softcover dan kertas buram yang disampul plastik, lebih hemat.
Mungkin karena basic saya adalah dari keluarga menengah ke bawah, mata keranjang saya terhadap buku itu merupakan penyakit yang menyiksa.
Saya pernah menuntaskan rasa penasaran saya dengan membaca isi buku yang dicetak pada kertas putih 80 gram—kertas dengan kualitas bagus, ternyata isinya sama saja. Saya pikir hardcover dan kertas putih itu hanya politik dagang, agar menarik minat konsumen (marketable) dengan design cover dan kertas yang bagus, tapi tidak berpikir terhadap konsumen yang memikirkan efisiensi, yaitu efisiensi terhadap belanja dan terhadap penggunaan bahan-bahan yang berasal dari alam.
Darimana sih kertas itu? Pasti semua orang sudah tahu. Jika ada yang belum tahu atau masih samar akan saya bahas secara sekilas.
Kebutuhan kertas meliputi kertas budaya dan kertas industri. Yang termasuk kertas budaya misalnya kertas tulis, kertas cetak, kertas koran dan lainnya. Dan yang termasuk kertas industri misalnya kantong semem, kardus, tissue dan lainnya.
Bahan Baku Industri Pulp dan Kertas.
Bahan dasar pembuat kertas adalah selulosa, suatu produk fotosintesa tumbuh-tumbuhan yang berarti bahwa produksi kertas menggunakan bahan baku yang dapat diperbaharui. Selulosa ini adalah polisakarida (C6H10O6) yang berupa serat dan berwarna putih (n = 250 - 150).
Atas dasar kelarutannya dalam NaOH 17,5 %, dikenal tiga jenis selulosa yaitu:
- selulosa tidak larut dalam pelarut tersebut pada 20oC
selulosa larut dan mengendap lagi bila ditambah dengan asam
- selulosa larut dan mengendap bila ditambahkan alkohol
Bahan pembuat kertas adalah – Selulosa, sedangkan yang larut ( – Selulosa, – Selulosa, Pentosa, Heksona dan lainnya) disebut semi selulosa.
Sifat kimia dari selulosa sesuai dengan gugus aktif alkohol yang dimilikinya (dapat mengalami oksidasi) dan derajat polimerisasinya (panjang serat). Makin panjang rantai selulosa makin kuat dan tahan degradasi baik secara panas, kimia maupun biologis. Sedangkan sifat fisiknya tergantung dari dimensi serat (panjang rantai 500 – 1000 A, luas 9 A dan tebal 4,7 A), makin panjang rantai maka akan semakin kuat sifatnya.
Proses Pembuat Pulp
Pulping adalah proses untuk memisahkan serat selulosa dari pencampuran lignin dan pentosan serta mengubah bentuk dari bulk menjadi serat atau kumpulan kecil serat yang terpisah. Selulosa terdapat dalam tumbuh-tunbuhan yang bercampur dengan lignin, pentosan, gum, tanin dan lainnya.
Lignin adalah senyawa polimer tiga dimensi, tapi strukturnya belum diketahui, hanya diketahui memiliki cincin aromat dan berbagai macam rumus fungsional seperti hidroksil, karbonil, metoksil, sehingga mudah mengalami degradasi. Karena itulah selulosa harus bebas dari lignin supaya kualitas kertas yang bentuknya tidak berubah warna selama pemakaian.
Proses pembuat pulp dapat dibagi tiga, yaitu :
Cara Mekanis:
Cara mekanis (Ground Wood), kayu yang telah dikuliti seratnya dipisahkan secara mekanis sehingga sesuai untuk pembuatan kertas Koran, tissue dan lainnya, dimana kekuatan dan derajat putih kertasnya tidak diutamakan. Cara ini memberikan efisiensi perolehan serat hingga 95 %. Sehingga menurunkan biaya produksinya.
Proses Kimia:
Pada proses ini selulosa dipisahkan dari lignin dan bahan non selulosa lainnya dengan menggunakan bahan-bahan kimia. Dengan cara ini diperoleh serat yang lebih putih tetapi yield pulp lebih kecil sekitar 65 – 85 %.
Produk pulp terutama digunakan untuk pembuatan kertas yang lebih kuat dan bersih serta dapat digunakan juga sebagai selulosa bahan penbuat rayon dan turunan selulosa lainnya. Dikenal proses yang bersifat basa (proses soda dan proses kraft) dan proses yang bersifat asam (proses sulfit, proses magnetic dan proses netral sulfat).
Pemilihan proses biasanya dilakukan didasarkan atas dasar bahan baku yang digunakan dan sifat pulp yang digunakan.
Proses Semi Kimia:
Pada proses semi kimia, bahan baku dilunakkan lebih dahulu dengan bahan kimia yang berupa larutan-larutan encer sulfit, sulfat atau soda, sehingga proses pemisahan serat selanjutnya dilakukan secara mekanis dan tidak memerlukan energi yang banyak.
Yield proses ini cukup tinggi 85 – 95 %, antara lain dikenal jenis proses soda dingin dan proses semi – ground wood.
Dalam pembuatan pulp di Indonesia banyak digunakan proses soda, dimana bahan kimia yang digunakan adalah NaOH (4 bagian) dan Na2CO3 (1 bagian). Pertimbangan dipilihnya proses ini karena hal-hal berikut:
Cocok untuk bahan baku serat pendek seperti jerami
Tidak menggunakan senyawa sulfur, sehingga mengurangi terjadinya polusi dan tidak perlu recovery bahan kimia dari limbah
Kapasitas ekonomisnya kecil 25 – 50 ton perhari dan ongkos operasinya murah
Nah, dari pulp inilah kertas dibuat. Pulp akan di cetak dan diproses sesuai dengan tujuan pembuatan kertas, apakah untuk kertas koran, hvs, kertas tisu atau lainnya.
Yang menjadi masalah adalah, pemanfaatan kayu bukan untuk kertas saja, tapi juga untuk keperluan lainnya, terutama untuk bangunan dan furniture. Untuk bangunan sendiri, seandainya belum ditemukan rangka atap dan jendela-pintu dari baja/alumunium, bisa dibayangkan bumi ini akan botak tak punya pohon. Mungkin saja Kebun Raya Bogor akan menjadi lapangan bola atau golf.
Jadi, sebagai orang yang mencintai buku yang berwawasan lingkungan (mencintai hutan), ceileeehh.. Mari bersama kita minimalisir pohon-pohon yang dijadikan kertas dan buku, kita reformasi tatanan kehutanan kita, karena hutan di negara ini sudah sedikit, hilang di kantong orang-orang tak beradab. Apakah kita juga sebagai manusia, atau orang-orang yang mencintai buku, hidup dari dan dengan buku, menjadi orang-orang tak beradab dengan menghamburkan kayu-kayu kita? Cukuplah kiranya jadi kutu buku daripada kutu hutan.
Hehehe.. Sekarang kalo masuk ke toko buku jadi gak gatel lagi, tapi seperti melihat ratusan pohon-pohon yang pindah dari habitat aslinya, dan jual tampang dipajang pada rak-rak dan etalase-etalase toko buku layaknya para peraga busana. [tac-2006, salah satu sumber diambil dari tugas mata kuliah proses industri kimia]
==================================
ketika dalama komunitas yang besar kamu tidak merasa puas, maka buatlah komunitas sendiri. jika itu hal yang baik pasti ada hal yang lebih baik, tapi yang penting adalah berani aja dulu..
tac_project adalah bad company in the community.
Monday, March 03, 2008
BLOG yg lain
kunjungi juga BLOGku yang lain di http://tac-reverse.blogspot.com/
tetap Semangat!
{ketika dalama komunitas yang besar kamu tidak merasa puas, maka buatlah komunitas sendiri. jika itu hal yang baik pasti ada hal yang lebih baik, tapi yang penting adalah berani aja dulu..
tac_project adalah bad company in the community}
E. M. B. E. R.
Thursday, February 21, 2008
YIN-YANG
Manusia diibaratkan dengan sebuah lingkaran dengan dua warna yang seimbang, yaitu warna hitam dan putih. Di dalam warna hitam ada setitik warna putih, dan di dalam warna putih ada setitik warna hitam. Artinya, jika seseorang itu jahat, maka masih ada kebaikan di dalam dirinya, dan jika seseorang itu baik, maka di dalam dirinya tersimpan sebuah kejahatan. Tak ada yang sempurna dalam suatu kebagusan, dan tak ada yang sempurna dalam suatu kejahatan. Atau, manusia bisa dikatakan sempurna karena memiliki kejahatan dan kebaikan sekaligus. Kurang lebih begitu yang simpulkan filsuf Cina di masa lalu.
Tak aneh jika kita menemukan seseorang yang jahat—penjahat, tapi dia punya batasan-batasan tertentu dalam melakukan kejahatannya, atau bahkan akhirnya dia sama sekali tobat. Atau kebalikkannya, ada seseorang pemuka agama yang melakukan perbuatan asusila dan amoral. Tak penting, yang penting di akhir hayat adalah kita bisa melakukan perbaikkan-perbaikkan terhadap kesalahan-kesalahan tersebut. Jangan sampai mati konyol. Mati yang tidak diridhoi.
Orang yang bijak adalah; jika dia sering melakukan kesalahan, maka dia tidak akan pusing memikirkan kenapa dan kenapa dia berbuat salah, kemudian berlarut-larut terpuruk menyesali kesalahannya. Orang yang bijak adalah; dia memikirkan kenapa dia berbuat salah dan menambal kesalahannya tersebut agar tidak terulang kembali. Memang sih, jika first time melakukan sesuatu, maka itu akan menjadi bayang-bayang abadi sepanjang hidup. Apalagi suatu kesalahan, mungkin akan jadi trauma yang lumayan berkepanjangan dan akan terus berkelebat sepanjang hayat.
Analoginya begini, jika kebenaran bisa dilakukan berulang-ulang dan banyak, tentu saja kesalahan juga begitu. Tuhan menciptakan segala sesuatu berpasang-pasangan, bukan? Ada kebenaran, pasti juga ada kesalahan. Timbulnya kebenaran biasanya akibat dari adanya kesalahan. Penelitian-penelitian yang dilakukan para ilmuwan juga tidak langsung jadi, mereka melakukan kesalahan-kesalahan dulu, sehingga terus berinovasi hingga menghasilkan sesuatu yang bagus. Belajar dari pengalaman.
Ya, belajar dari pengalaman akan membuat seseorang bijak. Jika dia tidak egois dan sakit hati dalam menyimpulkan pengalamannya. Rasa dendam terhadap pengalaman-pengalaman hidup yang menyakitkannya akan membuatnya menjadi seseorang yang selalu berpikir negatif terhadap segala hal, dan merasa selalu tidak puas. Bukankah rasa tidak puas terhadap sesuatu yang didapat itu tanda dari orang yang tidak bersukur? [tac]
"Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihtatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang." (QS. Al-Mulk, 67:3)
Monday, December 31, 2007
selamat tahun baru..!!!!
tahun
bulan
minggu
semuanya pasti harus melalui
hari demi hari
sesungguhnya hidup kita adalah
hari demi hari itu
yang didalamnya ada
jam demi jam
menit demi menit
detik demi detik
sehela demi sehela nafas
jika menikmati
sehela demi sehela nafas
terlalu detil,
nikmati saja
hari demi hari
seperti menikmati pergantian
tahun.
selamat tahun baru, duaribudelapan di pelupuk mata
layak tak sadar bahwa hitungan mundur untuk hidup terus laju
hitungan tahun bertambah
sejalan dengan bertambah hitungan umur, tapi
berbanding terbalik dengan jatah hidup
semangat!!!
tac
nikmati juga blog ku di : http://tac-reverse.blogspot.com/
Friday, October 05, 2007
I'LL BE BACK
SALAM SEMUANYA..
MERDEKA..!! SEBENTAR LAGI KITA MERDEKA..!!
SELAMAT HARI RAYA IEDUL FITRI ALIAS SELAMAT LEBARAN..
MOHON MAAAF LAHIR BATIN YA.. SAMA-SAMA..
MET MUDIK, MET PAKE PAKAIAN TERBAIK, PECI, KOKO, SARUNG BAGUS, ATO BARU?
KUE LEBARAN PLUS OPORNYA BAGI2 DONG KE KAUM DHUAFA (KAUM DHUAFA YANG KAYAK GIMANA YA???), KE ANAK KOSAN SEPERTI SAYA INI AJA DEH.. HEHEHEHEHE..
TETAP SEMANGAT, (walau masih nganggur..)
TAC.
ECENG GONDOK
Eceng gondok adalah tanaman yang tumbuh di perairan yang berlumpur. Akarnya menyentuh lumpur walaupun batang eceng gondok terlihat mengambang. Eceng gondok hidup dari tanah berlumpur, air yang kotor yang banyak mengandung limbah berbahaya dan menyerap sarinya.
Eceng gondok berbeda dengan teratai. Selintas saja melihat teratai, akan terlihat keanggunannya, apalagi musim berbunga. Tapi eceng gondok, susunan anatominya sederhana dan bahkan tidak menarik lagi, walau dulunya merupakan tanaman hias, karena populasinya yang banyak dan pertumbuhan vegetasinya yang cepat. Hanya beberapa jenis eceng gondok yang menarik bentuknya, yaitu eceng gondok yang batangnya panjang dan eceng gondok yang bentuknya kecil. Tapi ternyata eceng gondok mempunyai manfaat yang banyak sekali, antara lain sebagai makanan ternak, bahan pupuk kompos, kerajinan anyam-anyaman dan terakhir adalah karena dalam masa tumbuhnya eceng gondok tumbuh subur di sungai/waduk yang tercemar/kotor dan mampu menyerap kandungan limbah berbahaya dalam aliran air atau lumpur, maka eceng gondok dapat dipergunakan sebagai WWT (Wase Water Treatment) atau penetralisir limbah cair.
Sederhana, namun...
Eceng gondok begitu banyak manfaatnya, dan apalagi jika berbunga, bunganya akan mekar dengan indah (biasanya) berwaran ungu dan putih. Cantik. Sungguh tak menyangka akan keluar bunga indah seperti itu dari tumbuhan yang bernama eceng gondok.
Bunganya selalu bersih dan menawan walaupun dia hidup dari tanah berlumpur, dan eceng gondok tidak pernah memikirkan keindahan bunganya. Jika Allah berkehendak, manusia juga bisa sebersih bunga sepanjang hidupnya. Atau bahkan dia tidak pernah jatuh sakit, merasa sakit, dan menderita. Namun manusia telah diciptakan dalam kondisi lemah, dan butuh perawatan, dan dia harus mengakui ketidakberdayaannya. Segala sesuatu di dunia ini, dicipta sebagai ujian, sehingga semuanya akan tua, lemah, dan mati. Dalam Al-Quran surat 57, Allah mengingatkan tentang kehidupan dunia sesungguhnya:
Ketahuilah bahwa kehidupan dunia itu hanyalah sesuatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhiran (nanti) ada Azab yang keras dan Ampunan dari Allah serta KeridaanNya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu (QS 57: 20)
Jika kita merasa diciptakan biasa saja, atau bahkan lebih jelek (maaf) dari orang kebanyakan, mungkin ternyata dalam diri kita menyimpan banyak kemaslahatan untuk orang lain dan lingkungan sekitar kita. Siapa tahu ternyata kita orang yang sangat dibutuhkan dan selalu berguna dibandingkan para artis dan pejabat. Siapa tahu dibalik wajah yang ”ijo” ternyata terdapat senyum yang paling manis dan dapat menentramkan orang yang melihatnya. Siapa yang tahu???
"Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihtatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang." (QS. Al-Mulk, 67:3).
[tac-21puasa1428//031007]
MALL BARU DI SERANG
Thursday, August 24, 2006
KENANGAN-KENANGAN BERSAMA POLISI [PART BEGIN]
Tuesday, August 08, 2006
TRIAL & SPHARER
Tuesday, July 25, 2006
thanx 4 this time
SETAN MENGGODA DARI DEPAN, BELAKANG, KIRI DAN KANAN
Wah, senang sekali aku bisa ikut nimbrung di FRESH kali kedua ini.. Apa kabar semuanya? Ayo kita cuap-cuap berhadiah lagi..! Belakangan ini aku tertarik sama yang namanya Iblis CS. Lalu aku coba-coba nyari tahu dan merenung. Eksplorasiku ini mungkin never ending, hanya saja harus terus berjuang dalam pertarungan dengan si Iblis dan CSnya ini.
Seperti pada edisi terdahulu, ternyata Iblis tuh selalu menemukan celah, mendoktrin kita: bentuk fisik yang indah dipuja, bentuk fisik jelek dicela. Padahal kita tak boleh mencela semua ciptaan Tuhan kita. Tuhan kita gitcu lho..!
To the point aja ya (FRESH kuecil sih..), eksplorasi yang pertama adalah dimulai dengan ayat; "Sungguh akan kuhalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus. Akan kudatangi mereka dari arah depan dan belakang, dari sebelah kanan dan kiri mereka!" (QS 7:16-17).
Maksudnya, menurut Ibnu Abbas ra, Iblis bertekad untuk menyesatkan orang dengan menebar keraguan, membuat orang ragu dan lupa pada akhirat, alergi dan anti terhadap kebaikan dan kebenaran, gandrung dan tergila-gila pada dunia, hobi dan cuek berbuat dosa, ragu dan bingung soal agama (Lihat: Ibn Katsir, Tafsir al-Qur'an al-Azim, cetakan Beirut, al-Maktabah al-Asriyyah, 1995, vol. 2, hlm. 190).
Mari kita tinjau dari segi fisik (kita bicara fisik lagee neeh..); kita kategorikan saja menjadi tiga bagian, yaitu bagian depan, belakang, dan samping.
Bagian depan berarti; ada indra penglihatan (mata), penciuman (hidung), pengecap (lidah plus mulut) dan alat kelamin.
Bagian belakang; indra perasa (kulit) bisa juga kulit disebut indra peraba, bagian belakang tubuh itu peka sekali terhadap pelukan dan sentuhan, kemudian dubul.
Bagian samping atau kiri-kanan adalah sepasang tangan, kaki dan telinga.
Ok, mari kita bahas, tapi.. Sampai disini dulu ah cuap-cuapnya.. Seperti yang aku bilang di awal tulisanku, bahwa eksplorasi ini never ending. So, ini belum berakhir, jika penasaran; simak FRESH edisi selanjutnya. Ok, Bro? (tac0206).
Ha.. ha.. ha.. lucu sekali jika ada yang mengatakan aku cakep. Itu fitnah, eh bukan, itu merupakan khamr memabukkan, yang bila aku menenggaknya maka aku akan terbuai terbang dalam angan-angan. Dan aku lupa bahwa jasadku hanya barang fana.
Misalkan, ada seorang aktris cantik, body aduhai laksana bidadari (tentunya analogy bidadari adalah sebentuk mahluk yang sangat cantik). Atau ada aktor guanteng, yang sangat keren. Tapi mereka (aktor dan aktris tersebut) sudah RIP. Apakah kita akan mengawetkan tubuh mereka agar abadi, untuk dikenang jika kangen dapat melihat kegantengan dan kecantikkan mereka melalui tubuh kaku mereka. Aku yakin tidak.
Aku melihat film dokumenter di TV tentang mummy, ternyata tubuh manusia yang di mummykan itu juga tidak awet. Cairan tubuhnya menguap/dihilangkan, kesegarannya hilang dan.. lapuk.
Siapa yang mau memeluk mayat? Mungkin hanya mereka saja yang teramat dekat dengan sang almarhum, mungkin ortunya, istrinya, anaknya, atau kerabat dekatnya.
Keindahan tubuh tanpa ruh di dalamnya tak bernilai apa-apa. Berarti ruh atau jiwa adalah sesuatu yang lebih indah, bukankah Rosulullah dalam salah satu haditsnya—yang intinya begini; “tak ada keindahan di dunia ini selain wanita sholehah,” bukannya; “tak ada keindahan di dunia ini selain wanita cantik atau wanita dengan body aduhai”. Secara tidak langsung, seni yang mengeksploitasi tubuh—terutama tubuh wanita—itu sama sekali gak indah, gak ada ruhnya.
Kata sholehah adalah kata sifat, bukan kata benda. Jadi keindahan yang sebenarnya itu bukan melihat benda, tapi merasakan sifat. Keindahan itu ada di jiwa. Melihat pemandangan ataupun sejenisnya hanya melupakan sejenak masalah yang ada pada kita. Seindah apapun itu, jika hati kita sedang kelam, maka keindahan itu tak akan nampak, berbeda dengan keindahan yang berbentuk sifat. Hati akan tenang bila ketika dalam kesusahan ada yang menghibur kita, ada yang membantu memecahkan masalah. (tac180206).
Oleh Ayu Pangestu
Delapan tahun silam, kutemukan Intan bersama lukaku
Dalam Langit Jakarta yang memanggang
Dilanjuti malam yang mencekam
Diintai bertaruh nyawa seperti perang
Intan bertahan tanpa takut kematian
Sama seperti pejuang muda
Yang pergi pertaruhkan nyawa
Menyisakan sejarah panjang
Untuk dikenang
Langit kemuning dengan guratan-guratan jingga yang menyelisip mega-mega senja menyelubung kota Jakarta. Malam merayap lamban. Sepi dan gundah menyergap diriku di sebuah kamar hotel berbintang lima. Tiga hari sudah aku di Jakarta dan masih ada empat hari lagi untukku tetap bertahan di kota penuh sesak dan polusi ini. Aku jadi teringat kisah delapan tahun silam, dua belas Mei 1998, kala reformasi mencuat, yang digemakan oleh para mahasiswa se-JABOTABEK untuk melengserkan orang nomor satu di Indonesia—Soeharto, yang selama tiga puluh dua tahun memegang kendali negara Indonesia. Saat itu, Jakarta menjadi lautan mahasiswa yang berkerumun menduduki atap dan lingkungan gedung MPR serta memadati beberapa ruas jalan di Jakarta.
Susana mencekam, suara berondong peluru terdengar menakutkan, mematahkan nyali, ikut serta pula kepulan asap dan api akibat pembakaran mobil serta ban-ban bekas yang menjulang rendah ke angkasa. Aparat kemanan dan mahasiswa saling beradu, beberapa mahasiswa ada yang diculik bahkan meregang nyawa hingga akhirnya menjadi pahlawan reformasi yang terkenang hingga saat ini. Tapi ada yang lebih kurindukan dari peristiwa Jakarta itu. Aku mencari Intan Sholeha—gadis yang menolongku saat tubuhku tergolek lemas tidak berdaya akibat pukulan keras yang bertubi-tubi dari pentungan kayu milik polisi.
Intan adalah adik kelasku yang terpaut dua tahun umurnya dariku, saat itu aku sedang semester akhir. Gadis itu sangat berani, kobaran semangat reformasinya terlihat dikala matahari tepat berada di peraduan yang memanggang kulit dan ubun-ubunya. Lalu, ke sana dan ke mari bersama teman-temannya mencari korban-korban yang terluka, padahal saat itu bahaya tengah mengintainya. Sungguh dia wanita pertama yang membuatku terpana.
Aku sudah mengetahui, bahwa Intan telah menikah dan punya anak kembar laki-laki dan satu perempuan saat aku terakhir bertemu dengannya beberapa tahun silam. Tidak sepertiku, umurku yang sudah kepala tiga belum juga menikah. Padahal beberapa perempuan Jawa yang masih perawan, cantik. sukses karir dan soleh tidak terhitung jumlahnya. Orang tuaku pun sudah mati-matian memaksaku menikah dan mengenalkanku dengan beberapa wanita. Tapi, aku benar-benar terperangkap oleh lingkaran asmara yang ditanamkan Intan. Akibat perasaanku ini, sampai-sampai sahabat dekatku—Abdul Ridwan yang satu kantor sering meceramahiku agar tidak berlebihan untuk mencintai seseorang yang melebihi dari cinta Sang Pencipta. Aku sadar dan paham dengan semua kata-kata itu, tapi hatiku belum tenang bila belum berjumpa dengan wanita impianku
Surat-suratnya yang rajin mendarat di rumahku menyela perpisahan kami, banyak cerita menggoreskan luka di dalamnya. Intan ternyata tidak bahagia dengan pernikahannya. Suaminya itu hasil pilihan kedua orang tuanya. Aku menyusuri setiap kata yang mengisahkan tentang jerit batinnya. Entahlah aku suka atau tidak dengan berita itu. Tapi seharusnya aku paham, wanita yang hatinya selembut sutra, ucapannya yang manis penuh pikiran dan santun, tentu membuat puluhan kaum Adam ingin memilikinya. Awalnya, aku ikhlas dengan pernikahannya karena aku pikir Intan telah menemukan jodohnya, selain itu menikah adalah salah satu perintah sebagai penyempurna agama, apalagi Intan seorang perempuan, menikah adalah suatu dambaan agar tidak mendapat reputasi yang buruk di keluarganya dan masyarakat. Tapi, apa jadinya bila pernikahan itu justru menjadi malapetaka, tentu aku sebagai laki-laki yang mencintainya geram dengan laki-laki yang menjadi suaminya. Rasanya aku ingin bergulat dan membunuh laki-laki itu karena telah melukai wanita sebaik Intan. Seandainya aku menanggapi semua permasalahan yang dialami Intan karena aku mencintainya.
Aku sangat bersemangat saat mendapat undangan ke Jakarta untuk menjadi pembicara disuatu seminar ekonomi di Jakarta Hall Convention Center. Aku menjadi pembicara diacara expo ekonomi syariah untuk yang pertama kalinya di selenggarakan di Indonesia. Aku sebagai seseorang yang diamanahkan oleh Allah atas ilmu yang kudapat selama pendidikan S2 di AL Azhar University—Mesir, aku merasa kewajibanku sebagai muslim menyampaikan ilmu yang kudapat kepada khalayak, walaupun hanya satu ayat .
Memang jadwalku sangat sibuk, aku sering mengisi acara-acara seminar di kota-kota besar di Indonesia dan mengajar di beberapa perguruan tinggi baik negeri atau swasta di Surabaya. Terlalu sibuk hingga tidak memikirkan untuk menikah. Padahal undanganku sebagai pembicara hanya sampai dua hari saja dan itu pun untuk acara talk show yang dimulai pada pukul empat sampai dengan magrib. Tapi, aku sengaja tidak langsung pulang ke Surabaya karena aku dan beberapa stafku ikut serta mendirikan stand perusahaan di acara tersebut, --yang bergerak sebagai perusahaan jasa bisnis konsultan secara syariah. Dan bukan hanya sekedar itu pula aku memutuskan untuk bertahan di Jakarta, aku ingin menyela waktuku untuk mencari Intan.
Atas perjuangan itu pula aku bisa kembali ke Jakarta. Sekali lagi bila ditanya manakah yang lebih besar hasrat untuk berdakwah atau menjemput rinduku pada Intan? Jujur saja aku sulit menjawabnya, menurutku berdakwah menjadi hal yang wajib, karena aku harus menyampaikan walaupun satu ayat. Sementara menjemput rindu, sulit kuelakkan.
***
Expo ekonomi syariah sengaja diselenggarakan di JHCC karena tempat itu sudah menjadi langganan setiap ada momen besar digelar. Ini sudah hampir sepekan, tapi aku acuh. Aku lebih banyak menekan tombol-tombol di kipet hanphone-ku untuk mencari informasi tentang Intan lewat teman-teman dekatku atau teman-temannya. Dan aku lebih menghabiskan waktu ke luar mencari Intan ke tempat pemukiman di daerah Kebayoran Lama yang sering di sebutkan Intan dalam suratnya. Menjaga stand atau mengikuti acara talk show aku sampingkan untuk beberapa waktu. Namun, semua ikhtiarku nyaris menghasilkan tangan kosong. Aku seperti mencari sebuah jarum di tumpukkan jerami.
Aku kehilangan jejak Intan, alamat yang dicantumkan pada amplop di surat-suratnya telah lama ditinggalkannya dan tidak ada yang tahu ke mana Intan pergi. Ku lanjutkan perjalananku menuju depan pintu gerbang gedung MPR, aku menghentikan mobilku di seberang jalan gedung MPR, tanpa berniat untuk keluar dari mobil.
Rekaman kaset kembali diputar oleh otakku, delapan tahun silam aku mengenal Intan di balik pintu gerbang gedung MPR itu, dulu di sana ada tenda seadanya tempat dia dan temannya mengobatiku yang terluka memar dan biru lebam. Bayangan yang amat ingin kulewati kembali, tapi mustahil. Aku seperti ingin masuk ke dalam lorong waktu yang mengantarkanku pada delapan tahun silam, tapi di mana lorong waktu itu berada?
* * *
Lalu lalang ratusan pengunjung Expo dan para peserta seminar hampir tidak pernah kuperdulikan. Tapi, sorot mataku diam-diam selalu memaksa untuk mengintip wajah-wajah para pengunjung yang sliweran ke sana dan ke mari. Aku berharap ada keajaiban dari yang Maha Pencipta. Mungkin saja Tuhan mendengar isi hatiku, lalu tiba-tiba Intan muncul.
Aku malu pada Abdul, dia selalu memperhatikan gerak-gerikku secara diam-diam. Abdul mengejekku dengan sebuah pepatah “bagai pungguk merindukan bulan.” Wajahku berubah jadi merah semu. Tapi, apakah sebuah mimpi bila aku berharap bertemu kembali dengan Intan?
Aku duduk terdiam, menunduk lemas. Tapi jauh dari itu, hatiku terlalu yakin bahwa Tuhan bisa berkehendak apapun. Sebagai seorang muslim yang taat pada agama, aku yakin Allah mendengar do`aku yang senatiasa aku mohonkan selepas kiyamul lail di sepertiga malam.
Berulangkali aku merasa malu dengan diriku sendiri termasuk dengan Abdul saat aku menyapa beberapa perempuan dari punggungnya dan ternyata tidak satu pun wajah Intan kutemukan. Aku telah keliru.
Malam terakhir penutupan Expo terasa lamban, sejumlah stand syariah seperti bank-bank, pegadaian, perusahaan asuransi, tafakul, butik pakaian dan pernak-pernik muslim dan stand buku-buku islam serta beberapa media masa, sudah ada yang tutup sejak ba`da magribh. Aku masih bertahan duduk bersama Abdul di stand. Padahal di ruang auditorium di belakang standku sedang berlangsung acara penutupan yang seru, dihadiri menteri ekonomi, para pakar ekonomi, seorang artis KDI dan artis cilik serta grup marawis yang memberikan hiburan, dan terakhir tausiyah dari salah satu ustadz kondang di Indonesia, tapi semua rentetan acara itu kuhiraukan.
Di bawah cahaya lampu yang menyala ribuan watt, aku melihat seorang perempuan bejilbab putih yang wajahnya mirip dengan Intan sholeha bersama tiga orang anak di bawah umur sepuluh tahun. Dua laki-laki kecil yang kembar wajahnya, dan perempuan kecil dalam gendongannya. “Wajahnya mirip sekali dengan Intan, tapi Intan kan tidak berjilbab?” tanyaku penasaran dalam hati.
“Tabungan investasi cendikia untuk anak-anaknya, Bu…” Ucap salah pramu stand wanita bank syariah di depanku yang terpaut dua stand dari standku. Pramu stand mengajak wanita itu untuk duduk sebentar di standnya seraya memberi penjelasan produk-produk apa saja yang hendak ditawarkannya, lalu kulihat wanita berjilbab itu mengisi buku tamu yang telah disediakan.
Aku tercekat melihat wanita berjilbab itu, mulutku hendak berteriak tapi seperti ada yang menyumpal dengan kain. Wajah wanita itu betul-betul mirip sekali dengan Intan. Tapi aku takut dan malu untuk yang kesekian kalinya karena selalu salah menegur orang. Tidak berapa lama kemudian, wanita itu keluar dari stand di depanku, dan melesat menuju auditorium untuk melihat acara hiburan yang masih tersisa. Aku segera berlari secepat kilat menuju stand di depanku, dan memeriksa buku tamu. Aku kembali tercekat, nyaris tidak percaya ternyata tidak salah lagi, wanita yang menulis di buku tamu ini adalah: Intan sholeha. Aku memburu dan menatap liar semua pengunjung di auditorium, tapi sayang penglihatanku terganggu dengan trik-trik cahaya lampu yang terang, redup, dan berganti-ganti warna. Aku sengaja menunggu Intan di depan pintu luar auditorium dengan penuh kesabaran.
* * *
Satu jam kemudian wajah itu keluar bersama tiga anaknya yang masih kecil. “Tan, masih inget sama aku?” tanyaku dengan khas logat Jawa yang masih kental seraya memukul pelan pundaknya.
Perempuan berhidung bangir dan bermata bak bulan sabit itu awalnya menatapku aneh, lalu kami sama-sama diam. Pelan-pelan wanita itu memamerkan deretan giginya yang tersusun rapi diantara kuakan bibirnya dan dua lesung pipit kecil di dua sisinya. Intan terseyum lembut untukku.
“So…Sopian!” Intan tercekat, suaranya tertahan berat di kerongkongannya. Ketiga anaknya bingung melihat prilaku Intan dan aku. Tapi aku tidak peduli sama sekali saat itu dengan sekitar. Hanya perasaan bahagia bercampur haru saat melihat bening di kedua mata Intan meretas, basah. Suasana tiba-tiba saja menjadi hening, kami membisu hanya hatiku yang gentar bicara menyuarakan kobaran rinduku pada nya.
“Apa kabarmu?” Tanya Intan lirih.
“Alhamdulillah, aku sehat wal afiat.” Sahutku seraya tersenyum riang.
Airmata Intan berjatuhan lamban membasahi pipinya, sapu tangan dari saku baju kemejaku segera kuberikan untuknya. Intan terlihat betul-betul sedih saat melihatku, mungkin dirinya tidak akan menyangka akan bertemu denganku. Aku ingin memeluk tubuhnya dan menyeka airmatanya tapi hal itu bertentangan dengan batinku, aku merasa imanku tengah di uji. Ku biarkan Intan menumpahkan airmatanya.
“Sudah jangan menangis.” Ucapku.
Intan mendadak diam dan menunduk malu. Aku tidak hentinya mengucapkan syukur kepada Sang Maha Pemilik Cinta dan tersenyum haru. Intan kemudian mengenalkanku pada ketiga anaknya yang lucu-lucu dan polos.
“Lelaki yang kembar pertama namanya, Sukron Arafat. Kembar kedua namanya, Muhammad Kindi, dan si bungsu yang cantik ini namanya Anna Nurjanah.”
“Nama yang bagus-bagus sekali.” Sahutku ditingkahi senyum jenaka ke arah anak-anaknya. Namun, mereka menatapku aneh dan asing.
Dari kejauhan aku melihat Abdul Ridwan—sahabatku berdiri di depan stand mematung, memperhatikan ulahku.
“Intan Sholeha….” Ucap Intan dengan kedua tangan mengatup di depan dadanya sebagai tanda perkenalan tanpa saling berjabat tangan.
“Nama yang indah. Seperti serupa wajah dan ucapannya, dan mungkin juga serupa hatinya. Ternyata wanita ini yang membuat hidupmu….”
“Rindu dan gundah.” Potongku cepat.
Intan merah semu karena malu seraya mengulum senyumnya. Wajah cantik itu menunduk.
“Di mana suamimu?” tanyaku pelan. Bening kembali meretas di mata Intan.
“Sudah satu setengah tahun, kami tidak lagi satu atap, kami pisah ranjang. Aku telah salah memilih imam untuk keluargaku.” Balas Intan dengan nada berat.
“Maafkan aku bertanya seperti itu?”
Intan menyeka air matanya. “Tidak apa.” Lirihnya.
Bertemu dengan Intan dan mendengar keluh kesahnya, mendadak menjadi kobaran semangat yang sangat besar untuk hidupku. Setiap hembusan nafas selalu kusyukuri. Semua terjadi karena kehendak dan ridho Ilahi.
Malam mulai merayap. Para pengunjung juga sudah terlihat bubar suasana menjadi sepi. Kutatap jam di tanganku yang menunjukkan hampir pukul 23.00 WIB. Aku meminta izin pada Abdul untuk mengantarkan Intan dan ketiga anaknya.
Dalam perjalanan Intan bercerita tentang Ayahnya yang meninggal karena penyakit gula dan jantung enam bulan lalu, sementara sang bunda sudah meninggal setahun sebelumnya karena sakit panas biasa. Tiga kakak Intan, hanya tinggal dua orang yang masih di Jakarta, itu kakak laki-lakinya. Sementara kakak perempuannya tinggal di Bogor karena harus mengikut suaminya. Intan dan ketiga kakaknya sudah jarang bertemu, hanya saat libur atau disaat momen-momen tertentu.
Intan kembali menceritakan tentang tabiat suaminya yang selalu berprilaku kasar dan biadab. Airmata malang itu terus berderai, sampai ketiga anaknya yang tidak tahu apa-apa ikut menangis akibat melihat ibunya. Sebetulnya aku ingin sekali menyeka air matanya, tapi tanganku seperti tertahan memegang beban berat.
“Sabar lah, dengan ujian berarti Allah menyayangi umatnya. Allah tidak akan menguji hambanya diluar batas kemampuan umatnya.”
“Aku tahu, Ian. Tapi semua ini terlalu berat untuk kurasakan seorang diri.”
Malam benar-benar menggetarkan perasaan hingga terhempaslah semua lara yang menyelimuti diriku dan Intan. Wanita itu bercerita bahwa selama berpisah ranjang dengan suaminya, dia bekerja di tempat bimbingan belajar bahasa inggris ternama, semua itu dilakukannya semata-mata untuk menyambung hidup.
Malam makin merayap, larut. Ketiga bocah dalam pelukan dan pangkuan Intan di mobil membuat mereka lelap tertidur, Intan segera membopong si kembar ke kamarnya, sementara aku membopong si kecil Anna. Pembantunya yang perempuan dan sudah tua menyuguhkan dua cangkir teh hangat. Hening benar-benar mencekam, aku duduk dengan Intas di atas sofa sambil menikmati teh hangat. Tiba-tiba saja tangan Intan hendak meraih jemariku, dan kepalanya hendak menyandar di pundakku. Aku nyaris hanyut dalam suasana yang sepi dengan lampu temaram. Aku merasa imanku kembali teruji.
Aku menolak dengan ucapan sekenanya. “Maaf Intan, jangan sentuh aku.” Jantungku berdegub kencang setelah menyampikan kata-kata itu.
“Tapi, kenapa?” tanyanya dengan raut wajah kecewa. Aku tahu Intan baru empat tahun masuk Islam, dulu dia belum berjilbab, namanya pun dulu Intan Rahayu.
Aku merasa Intan belum terlalu banyak mengenal agamanya yang sekarang, apalagi mengingat suaminya yang kasar sudah pasti tidak bisa membimbingnya, terutama dalam hal akidah dan ilmu agama.
“Kamu sudah tidak mencintaiku lagi, Ian?” tanyanya kembali dengan airmata yang kembali turun.
“Perasaanku masih sama seperti dulu, aku mencintaimu. Kedatanganku ke Jakarta selain untuk menghadiri undangan, juga karena aku ingin mencarimu, menjemput rinduku. Tapi masalahnya kau belum resmi bercerai. Pisah ranjang bukan berarti kau terlepas begitu saja, masih ada yang membentengimu. Kau masih menjadi milik orang lain, Intan. Maafkan aku.” Jawabku penuh pikir, aku takut salah berkata-kata dan menyinggung perasaaan Intan hingga membuatnya terus menangis.
“Yah aku paham. Aku memang bukan wanita yang baik. Aku tidak bisa menjaga imanku. Kau memang laki-laki yang baik. Aku tidak pantas untukmu.”
“Jangan bicara seperti itu, aku mohon. Bila kau sudah mengurusi perceraianmu, aku akan menjemput dan menikahimu dengan bismillah.”
Intan tersenyum haru mendengar semua kata-kataku. “Betulkah, Ian?”
“Insya Allah.”
Tidak hentinya aku mengucapkan istighfar karena kelalaianku. Aku takut Sang Maha Pemilik Cinta murka kepadaku. Apalagi aku dilahirkan dari keluarga yang teguh pada agama, apa jadinya bila aku menjalin hubungan dengan wanita yang belum bercerai. Betapa aku akan malu karena telah mencoreng nama keluargaku sendiri.
Malam itu juga aku pamit kepada Intan, kutinggalkan dirinya yang masih menyimpan rindu kepadaku. Malam itu aku betul-betul tidak memberikannya momen yang menjadi lebih bermakna di hati Intan. Tapi seandainya dia mengetahui bahwa bertemu dengannya saja sudah cukup mengobati rinduku.
“Terimakasih, Ian.” Ucapnya diiringi airmata.
Kubelai kepalanya yang terbalut jilbab. Kugoreskan sedikit kebahagiaan di hatinya dengan mencium kepalanya.
* * *
Pagi menjelang siang kutinggalkan Jakarta, tempat yang memberikan kenangan indah dalam hidupku.
Aku pergi meninggalkan Jakarta melewati ratusan kilometer, kembali pada kehidupanku dengan membawa bayangan wajah malang Intan.
Sejak pertemuanku dengan Intan. Aku masih terus menghubungi Intan lewat handphone, menanyakan bagaimana perkembangan kasus perceraiannya dengan suaminya. Intan berkata kepadaku bahwa dia akan melewati tiga kali sidang, dia sangat berharap kurang dari dua bulan kasus perceraiannya akan selesai.
Intan adalah wanita paling indah yang pernah kukenal, wanita paling tabah dan sabar, sama seperti saat dia mengobati lukaku delapan tahun silam, maka akan kujadikan dia menjadi wanita paling bahagia di dunia ini.
Intan tunggulah aku menjemput rindumu, dan membawamu serta ketiga anakmu ke istana yang telah kubangun di tempatku berjuang menggapai masa depan. Yah, kelak kubawa kau ke Surabaya, kualiri kau dengan ketulusan cinta yang menjanjikan kebahagiaan.
* * *
Di kaki langit Pamulang, 20 Mei 2006
(ini cerpen punya temanku : Nuraini Ayu Pangestu, lahir Jakarta 4 April 1984, alamat Komp. Reni Jaya Jl. Kenari ! Blok AD 4 No 1a Pamulang-Barat, Tangerang. Suka nulis sejak SD kelas 6, cita-cita kedepan pengen bikin novel sama suami tercinta, pengen punya pustakaloka kayak mas golagong, pokoknya pengen eksis di nulis, maju terus pantang mundur!)
Oleh: TA Chandraz
Orang dengan T-Shrit Polo warna biru itu tertegun, duduk—menghimpitku—di bangku halte depan Ramayana. Mencoba mengamati gambar-gambar di baligo besar di sisi sebelah kanan atas halte. Gambar film yang akan diputar hari ini—yang terhalang oleh beberapa tiang dan gerobak-gerobak pedagang kaki lima yang menjajakan makanan di sekitar halte. Sementara di depannya, kesibukan terus berlanjut, kendaraan yang berlalu-lalang, angkutan umum yang menaikkan dan menurunkan penumpang, orang-orang yang datang dan pergi dengan keperluan masing-masing.
Laki-laki berperawakan sedang itu kemudian mengambil Hp, sepertinya mencoba menghubungi seseorang. Tak berhasil. Aku mencoba mengintip ke layar Hpnya, nama yang dihubungi sepertinya nama perempuan, nama yang sudah tak asing lagi bagiku. Dia lalu mencoba lagi, dilekatkan lagi Hpnya ke telinga kiri. Masih bersuara tulalit. Diapun mengurungkan niatnya, HP langsung dia masukkan kembali ke kantong depan sebelah kanan jeans birunya. Aku tahu, dia mau nonton film di Studio Twenty One. Aku lihat, filmnya lumayan bagus-bagus, ada Madagaskar, Batman Begins, Mr. & Mrs. Smith, pasti itu yang membuatnya pengen nonton. Aku juga tahu bahwa dia punya uang lebih, karena tadi dia mau ngajak temen perempuannya, tapi sepertinya ada masalah.
Setelah membuang segala gundahnya, pemuda pemilik HP Siemens C55 itu melangkah masuk ke Mall di sudut timur Cilegon tersebut, lewat pintu samping kanan mall, meniti tangga langsung menuju Studio Twenty One di lantai dua. Aku masih tetap setia di belakangnya. Sampai di dalam studio, dia menyapu pandang ke sekelilingnya lalu melihat-lihat poster-poster film yang dipajang pada tempat-tempatnya di dinding seputar ruang tunggu studio. Film apa ya yang harus ditonton..? sepertinya dia bingung. Mungkin ingin nonton semuanya, tapi uangnya.. heman!
Aku masih mengikuti gerak-geriknya. Bosan melihat gambar-gambar, dia duduk di kursi tunggu—selalu menghimpitku—memperhatikan orang yang main ding-dong, dan memperhatikan orang-orang di sekitarnya. Wajahnya semakin murung.
Wah, jadi gak enak perasaan euy..! Ngiri!! Ketika melihat muda-mudi yang mau pada nonton. Wajah-wajah muda yang cantik, imut, kiyut, fresh, dan sebagainya berlalu-lalang. Nafas berat langsung terhembus. Huh, kapan kayak mereka..? (aku melirik mereka yang menggandeng cewek-cewek itu). Yah, walaupun tak ada lawan jenis yang menggandengnya, tetep saja mereka—cewek-cewek cakep—itu bawa teman atau rombongan. Sementara, orang yang selalu denganku.. Alone deh..!
Loket tiket sudah mulai dibuka, antrian juga sudah terbentuk. Nonton jangan, nonton jangan? sepertinya dia jadi pusing sendiri.. Tapi akhirnya dia menuju loket tiket. Studio 2, nonton Batman...
[***]
Jadi inget waktu dulu, pas nonton film apa ya.. oh, film Kungfu Hustle. Baru duduk di kursi dengan nomor yang sesuai dengan yang tertera pada tiket, eh, dia pengen buang air kecil. Ini nih, pasti dia kelupaan mengantisipasi... Setiap bubaran nonton, dia paling males keluar berdesakan, nyantai aja, gak pernah keluar pertama, gak pernah tahu caranya buka pintu. Jadi, ketika ingin kencing tersebut, dia harus buka pintu sendiri. Mahasiswa Fakultas Teknik UNTIRTA itu bingung cara buka pintunya kayak gimana.. Ada dua pintu keluar di dalam ruang studio, samping kiri-kanan layar pertunjukkan. Antara dua pintu itu dia bolak-balik, gak tau cara bukanya, sementara para penonton yang tengah duduk menonton pertunjukkkan aneh tersebut. Untung film belum diputar, he.. he.. Dari kampung mana sih? (sst.. bacanya jangan keras-keras.. takut kedenger sama dia..). Yap, akhirnya kebuka juga, sepertinya dia lega banget. Ternyata hanya tinggal menekan panelnya!
Kemudian dia langsung menuju toilet yang barusan keluar seorang laki-laki, sepi tapi aneh, sepertinya toilet laki-laki bukan kayak gini deh, kok gak ada urinalnya? Lalu ada seorang cewek keluar dari kamar mandi, dengan refleks dia langsung keluar toilet. Ternyata laki-laki yang barusan keluar itu hanya mengantar pacarnya. Setelah keluar dan menutup pintu dia sempatkan untuk melihat ke atas pintu toilet. Gambar kartun yang tubuhnya seperti piramida, melukiskan kefemalean. Dengan buru-buru dia masuk ke toilet satunya, dengan melihat tanda di atas pintu dulu tentunya. Memalukan!, pikirku.
Setelah selesai dengan hajatnya, masalahpun muncul lagi. Masuknya lagi gimana? Gak mungkin masuk lewat pintu tadi, panel pembukanya hanya di sebelah dalam, gak ada panel di sebelah luar. Dia merogoh saku, untung ada potongan tiket, so masuknya berarti harus dari pintu masuk lagi. Akhirnya, dia bisa duduk di tempatnya semula dan bisa nonton dengan tenang.
[***]
Waktu terus berlalu.. film Batman, seru euy..! Sudah sekitar dua jam, aku sudah merasa pengap. Saatnya untuk bubar, dia langsung menuju toilet—awas jangan sampai terulang lagi!. Ruang berAC selalu membuat dia beser. Sampai di dalam toliet—toilet laki-laki tentunya, bukan ke urinal, malah ke kamar kecil. Buang air kecil sih.. Setelah selesai, maksudnya sih nyiram, klik, dia menekan tombol penyiram, eh malah airnya mancer keluar kloset, kena ke celana, dia kaget, tapi basahnya di lutut! Yah lumayan dari pada basah di selangkangan... dia mengerutu, wajahnya mencerminkan itu.
Dengan perasaan tegang, lelaki berambut lurus itu keluar dari toilet, sial. Pasti dia bingung, harus bagaimana mengeringkannya. Sambil berjalan di lorong belakang studio, dia berpikir keras. Akhirnya dia menuju toko buku dengan segera, mencoba sembunyi di sela-sela rak buku, semua cover buku dia lihat. Mencari buku termurah untuk dia beli. Kemudian dia tertarik pada buku EYD, lumayan buat nambah ilmu menulis. Lama juga dia di toko buku, pokoknya sampai basah itu menjadi kering. Aku memperhatikan celana bagian lututnya yang tadi basah. Sudah kering.
Mungkin dia juga sadar, karena setelah memperhatikan ke arah lututnya dan meraba-rabanya, dia beranjak ke arah kasir dengan buku EYD di tangannya. Sambil menunggu antrian dia merogoh saku depan sebelah kanan celana jeansnya, menghitung uang ribuan untuk membayar buku bercover warna biru itu, sepertinya gak cukup. Pemuda berwajah pas-pasan yang selalu bersamaku ini lalu memasukkan uang itu kembali ke sakunya. Ketika giliran dia untuk membayar, dia menyodorkan buku tersebut ke kasir, kasirpun menerimanya, kemudian menscan label harga pada buku, yang secara otomatis akan memunculkan harga buku tersebut pada monitor komputer kasa.
Matanya yang agak sipit memperhatikan monitor kasa, melihat harga yang harus dia bayar. Diapun mengeluarkan aku dari saku belakang sebelah kanan celananya. Mengeluarkan satu lembar uang pecahan limapuluh ribuan dari tubuhku.
“Ada uang kecil?” Tanya kasir cantik dengan rambut diikat tunggal. Umurnya mungkin beda dua tahun lebih muda dari pemilikku.
“Ada, tapi kurang.” Jawabnya singkat sambil memasukkan aku kembali ke saku tempat asalku semula. Setelah selesai dengan urusan kembalian, dia berjalan keluar toko buku menuju tangga ke lantai bawah. Sambil jalan dia kembali mengeluarkan aku, memasukkan uang kembalian puluhan ke tubuhku dan memasukkan uang ribuan ke saku depan sebelah kanannya. Sampai di luar tempat belanja tersebut, orang yang selalu mengantongiku langsung menuju halte, menyetop kendaraan untuk pulang.
(cilegoncost,nov’05)


